Delapan Tahun, Satu Langkah yang Lama Saya Tunda
Tahun ini adalah tahun kedelapan saya di Denmark.
Dan untuk pertama kalinya, saya berdiri bukan hanya sebagai imam, tapi juga sebagai khatib.
Sejujurnya, ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. melainkan sesuatu yang sudah lama saya tunda, dengan berbagai alasan yang saya sendiri tidak selalu yakin kebenarannya.
Yang Pernah Dipelajari, Yang Lama Disimpan
Kalau boleh sedikit bercerita ke belakang, saya bukan orang yang asing dengan ilmu agama. Sejak kecil, berbagai disiplin ilmu sudah pernah saya sentuh: akidah, akhlaq, fiqih, lughotul arabiyyah, nahwu, shorof, mahfuzhat, semuanya dalam bahasa Arab. Beberapa kitab kuning pun pernah dikaji. Ditambah seni tilawatil Quran, jamiโatul khitobah, sirah nabawiyyah, kitab-kitab ulama kontemporer, hingga menghafal Al-Quran.
Di atas kertas, cukup banyak.
Tapi sejak masuk kuliah di Jogja, saya memilih untuk menjauh dari segala yang berbau โdikenal sebagai orang yang tahu agama.โ Entah kenapa, saya selalu tidak nyaman dengan label itu. Sebagian besar waktu habis untuk mencari nafkah sendiri, bertahan hidup di kota orang, fokus kuliah. Tidak ada ruang untuk aktif di organisasi keislaman, dan saya juga tidak mencarinya.
Mungkin lebih jujurnya begini: saya tidak mau dikenal karena ilmu agama. Saya ingin, kalau pun orang mengenal saya, biarlah karena ilmu pengetahuan yang saya tekuni. Bukan karena saya tampak alim, sementara saya tahu betul bagaimana kondisi diri saya sendiri, jauh dari sempurna, jauh dari kata pantas. Banyak yang lebih layak.
Satu-satunya hal yang tidak bisa saya hindari adalah menjadi marbot masjid. Mengimami salat, mengajar ngaji, murojaah hafalan. Itu berjalan apa adanya, karena memang situasinya tidak memungkinkan untuk mengelak.
Dan pola itu terbawa hingga ke sini, ke Denmark. Saya bersedia mengimami salat Id, tapi tidak setiap tahun, dan tidak pernah naik ke mimbar untuk khutbah.
Lalu Mengapa Sekarang?
Bukan karena saya merasa sudah menjadi orang yang lebih baik. Sama sekali bukan.
Yang berubah bukan kondisi diri saya, tapi kondisi zaman yang saya perhatikan semakin hari semakin tidak bisa diabaikan.
Kita hidup di era di mana informasi datang tanpa henti, dari segala arah, tanpa filter, tanpa sanad. Setiap hari, bahkan setiap detik, kita dihadapkan pada konten-konten yang belum tentu jelas sumbernya. Narasi-narasi yang jika dilogika saja tampak benar sepenuhnya, padahal di dalamnya ada selip yang berbahaya. Fitnah menyebar dalam hitungan menit. Pemikiran-pemikiran yang secara intelektual menggoda, tapi secara aqidah merapuhkan, datang dalam kemasan yang rapi dan menarik.
Dan yang paling mengkhawatirkan: banyak orang, termasuk kita, menganggap bahwa belajar agama cukup dari YouTube. Cukup dari konten yang lewat di feed. Cukup dari podcast yang didengar sambil nyetir.
Saya pun melakukan hal yang sama. Dalam perjalanan pergi dan pulang kantor, earphone masuk, dan saya mendengarkan. Mulai dari kajian yang serius dan padat, sampai yang lebih santai dan mengalir. Banyak di antaranya sangat bagus, dan saya bersyukur konten-konten seperti itu ada dan mudah diakses.
Tapi apakah itu cukup?
Belum tentu.
Rasulullah ๏ทบ mengajarkan kepada kita bahwa ilmu itu diambil dari dada ke dada. Dari guru ke murid. Dari sanad yang jelas. Bukan sekadar dari teks yang mengambang di internet, tanpa konteks, tanpa pertanggungjawaban, tanpa hubungan. Para ulama menyebutnya dengan istilah talaqqi, proses menerima ilmu langsung dari yang lebih tahu, yang duduk bersama, yang bisa ditanya, yang bisa mengoreksi. Itulah mengapa majelis ilmu bukan sekadar tradisi, tapi memang metode yang disengaja, yang diwariskan dari generasi ke generasi sejak zaman sahabat.
Dunia digital memberi kita akses yang luar biasa luas. Tapi akses bukan sama dengan pemahaman. Dan pemahaman yang tidak dibimbing, seringkali justru menjadi sumber masalah baru.
Tantangan Kita Hari Ini dan Anak-Anak Kita Esok
Kondisi ini lebih daripada sekedar bagi kita orang dewasa. Ini juga termasuk soal generasi yang sedang tumbuh, termasuk anak-anak kita.
Mereka akan menghadapi dunia yang jauh lebih kompleks dari yang kita hadapi sekarang. Globalisasi yang semakin melebur batas budaya dan nilai. Kecerdasan buatan yang mulai mampu menciptakan konten dan argumen yang hampir tidak bisa dibedakan dari yang manusiawi. Identitas keislaman yang terus-menerus diuji, bukan hanya dari luar, tapi juga dari dalam komunitas sendiri.
Belum lagi tantangan yang terasa sangat konkret di kehidupan sehari-hari: betul-betul mengambil yang halal dan menjauhi yang haram. Berhati-hati dalam memberikan kenyamanan bagi diri sendiri dan keluarga. Juga soal pintu-pintu tempat rezeki itu bisa didapat, karena tidak semua pintu yang terbuka lebar itu halal untuk dimasuki, dan tidak semua yang tampak sempit itu tertutup dari keberkahan.
Di sinilah setiap muslim, sekecil apapun ilmu yang dimiliki, punya tanggung jawab untuk tidak berdiam diri. Bukan karena merasa paling tahu. Tapi karena diam pun adalah pilihan, dan pilihan itu ada konsekuensinya.
Maka itulah yang menggerakkan saya untuk terus mencoba membangun komunitas yang sudah ada seperti IMSD, maupun lingkaran-lingkaran kecil yang saya coba inisiasi seperti Duduk Ngaji (grup belajar tahsin), RUMPI (Ruang Ukhuwah & Mengaji Pelajar Indonesia) , dan 10MDPL (10 Malam Dalam Perburuan Lailatulqadar). Bukan dengan klaim memiliki banyak ilmu, tapi dengan niat menyediakan ruang, tempat duduk bersama, saling belajar, saling mengingatkan.
Dan itulah pula yang akhirnya membuat saya mengiyakan ketika diminta naik mimbar, tidak hanya mengimami, tapi juga berkhotbah.
Keimanan yang Tidak Harus Takut pada Ilmu Pengetahuan
Ada satu hal yang selalu ingin saya sampaikan, dan semoga bisa tercermin dari setiap ruang yang saya ikut bangun:
Keislaman yang kita pegang erat hari-hari ini, tidak perlu takut pada ilmu pengetahuan.
Keimanan yang kuat bukan keimanan yang menutup mata dari pertanyaan. Justru sebaliknya. Sejarah peradaban Islam dipenuhi oleh mereka yang tidak memisahkan iman dari akal, yang menjadikan observasi terhadap alam sebagai bentuk tafakkur, yang menulis ilmu kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat sebagai perpanjangan dari keyakinan bahwa alam semesta ini diciptakan dengan keteraturan yang bisa dipelajari.
Hari ini, ilmu sosial, psikologi, neurosains, bahkan sains komunikasi, semuanya bisa menjadi jendela yang mempertegas, bukan memperlemah, keimanan kita. Kalau kita mau membacanya dengan cara yang benar.
Itulah perspektif yang ingin saya bawa: dalam khutbah yang singkat itu, dalam majelis-majelis kecil itu, dalam tulisan-tulisan yang coba saya bagikan. Keimanan yang tidak hanya bertahan menghadapi logika, tapi justru berjalan seiringan dengannya. Islam yang relevan bukan hanya dalam tataran ibadah, tapi juga dalam muamalah, dalam cara kita bekerja, mengasuh anak, membangun komunitas, dan menjalani kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat yang plural.
Semoga Ini Menjadi Saksi
Saya tidak tahu seberapa banyak yang bisa saya berikan. Ilmu saya sedikit, dan saya tahu persis batas-batasnya.
Tapi saya percaya pada satu hal: bahwa setiap kebaikan kecil yang dilakukan dengan niat yang tulus, walau hanya menyentuh satu orang, walau hanya menggerakkan satu hati, tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah.
Semoga ilmu yang sedikit ini, upaya yang tidak seberapa ini, menjadi benih yang terus tumbuh. Yang suatu hari, saat pemiliknya paling membutuhkan pertolongan, benih-benih itu sudah tumbuh menjadi pohon yang cukup rindang untuk berteduh.
Jariyah yang terus mengalir, bukan karena kehebatan yang menanamnya, tapi karena keikhlasan yang menyertainya.
Mari Kita Saling Mengajak
Kepada siapapun yang membaca ini, saya tidak mengajak kalian untuk menjadi ustaz atau ustazah. Saya hanya mengajak untuk tidak diam.
Bagikan satu hal baik yang kamu tahu. Duduklah di satu majelis ilmu walau sebulan sekali. Tanyakan kepada yang lebih tahu ketika kamu ragu. Bangun lingkaran kecil di sekitarmu, karena dari lingkaran kecil itulah perubahan yang besar biasanya dimulai.
Kita tidak harus sempurna untuk memulai. Kita hanya perlu jujur pada niat kita, dan berani mengambil satu langkah kecil yang sudah terlalu lama kita tunda.
Taqabbalallahu minna wa minkum, wa jaโalanallahu wa iyyakum minal โaidin wal faizin.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447H.
Mohon maaf lahir dan batin, dari saya dan keluarga, untuk seluruh khilaf yang disengaja maupun tidak.
Enjoy Reading This Article?
Enjoy Reading This Article?
Here are some more articles you might like to read next: